Senin, 17 Des 2007,
Libatkan Ahli Fengshui, Tetap Kalah dengan Ocean Park
Berkunjung ke Disneyland Hongkong yang Pengunjungnya Terus Menurun
Kali pertama dibuka lebih dua tahun lalu, ribuan orang rela antre berjam-jam untuk masuk Disneyland Hongkong. Namun, di masa awal liburan Natal seperti sekarang, pengunjung "theme park" kelima dari jaringan yang berpusat di Amerika itu ternyata tetap tak memenuhi target.
ANY RUFAIDAH, Hongkong
BERBEDA dengan jaringan Disneyland di luar Amerika sebelumnya, Disneyland Hongkong sejak awal didesain agar sesuai dengan kultur lokal. The Walt Disney Company dan Pemerintah Hongkong, dua investor yang berpatungan membangun taman hiburan itu, berkompromi memanggil para ahli fengshui. Tujuannya, menata bangunan di sana agar sesuai fengshui, sehingga selaras dengan nilai Asia serta membawa rezeki.
Namun, harapan tinggal harapan. Dalam pertemuan dengan anggota parlemen pada 5 Desember lalu, Menteri Perdagangan dan Pengembangan Ekonomi Hongkong Frederick Ma memaparkan laporan yang membuat pemerintah bekas koloni Inggris itu tersenyum kecut.
Disneyland yang beroperasi di Pulau Lantau, Teluk Lantau, sejak 12 September 2005, gagal memenuhi target. Tiap tahun diharapkan 5,5 juta pengunjung menikmati taman hiburan bersimbol Tikus Miki itu. Namun, pada tahun pertama, hanya 5,2 juta pengunjung yang masuk. Tahun kedua, jumlah tersebut merosot menjadi 4,8 juta.
Bila dipukul rata, pada periode September 2006-September 2007 kurang dari 15.000 orang yang datang tiap hari untuk menikmati wahana dan parade khas Disneyland. Padahal, taman hiburan yang 57 persen sahamnya dimiliki pemerintah itu disebut-sebut mampu menampung 34.000 pengunjung setiap hari.
"Operasional Disneyland selama dua tahun memang tidak menggembirakan," kata Frederick Ma. Kendati demikian, Ma meminta pemerintah tetap mempertahankan Disneyland karena theme park itu membantu mengukuhkan citra Hongkong sebagai kota dengan komunitas beragam, sekaligus pusat wisata di kawasan Asia.
Tertarik membuktikan komentar Frederick Ma, Jawa Pos mengunjungi Disneyland Hongkong Sabtu (15/12) lalu. Kebetulan hari itu awal masa liburan menjelang Natal dan tahun baru. Lokasi Disneyland Hongkong lumayan jauh dari pusat kota. Dari Causeway Bay, tempat Jawa Pos menginap, harus berganti MTR (Mass Trans Railways) tiga kali. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sedikitnya satu jam dengan biaya sekitar HKD 41 (sekitar Rp 49 ribu) pulang pergi.
Jawa Pos tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 waktu Hongkong (10.00 WIB) atau dua jam setelah Disneyland dibuka. Dari lima loket yang dibuka, antrean hanya terlihat di tiga loket. Itu pun tidak terlalu panjang. Jawa Pos bertanya kepada Chung, penjaga loket tiket. "Hari ini pengunjungnya lumayan banyak. Ini sudah liburan Natal kan," katanya seraya menyerahkan tiket kepada Jawa Pos.
Mendengar pernyataan Chung, Jawa Pos berharap ada lautan manusia di dalam Disneyland seperti kondisi Dunia Fantasi (Dufan) Jakarta saat liburan. Ternyata, saat di dalam, pengunjung memang banyak, tapi tidak membeludak. Antrean di beberapa wahana, seperti kereta keliling lokasi, tidak terlalu panjang. Hanya untuk naik wahana Jungle River Cruise, Jawa Pos menunggu lama. Itu pun karena salah masuk antrean rombongan dengan guide berbahasa Putonghua (bahasa standar Mandarin).
Saat menikmati pertunjukan Lion King pun, bangku yang disediakan tidak terisi penuh. Desmond, salah satu petugas di konter informasi mengakui, jumlah pengunjung hari itu tergolong ramai. Pada hari biasa, jumlah pengunjung turun drastis. "Disney ramai pada saat-saat tertentu, seperti Natal dan Tahun Baru seperti sekarang, atau Tahun Baru China," katanya.
Pengunjung terbanyak dari daratan Tiongkok. Lalu disusul warga Hongkong atau AS. "Pengunjung Asia seperti dari Singapura atau Filipina sangat jarang," katanya lantas tersenyum.
Emily, mahasiswi Tiongkok yang lagi liburan dari kuliah di Selandia Baru, mengaku agak kecewa ketika datang ke Disneyland Hongkong. Perempuan 22 tahun itu merasa permainan yang ditawarkan kurang banyak. Dia lalu membandingkan Disneyland dengan Ocean Park, taman hiburan yang terletak di kawasan Aberdeen, distrik Hongkong Selatan.
"Saya lebih senang ke sana," katanya. Ocean Park yang masuk peringkat ketujuh Taman Hiburan Paling Menarik di dunia versi majalah Forbes 2006 itu terkenal dengan wahana kereta gantungnya.
Emily juga mengeluhkan tiket masuk Disney yang mahal. Untuk hari biasa harganya HKD 295 atau lebih Rp 300 ribu. Untuk weekend dan hari libur, naik jadi HKD 350. Bandingkan dengan tiket masuk Ocean Park yang hanya HKD 208. Harga-harga itu berlaku untuk orang dewasa. Untuk anak-anak atau orang tua di atas 65 tahun, biasanya lebih murah.
Pendapat yang sama diungkapkan Yoong, pemuda lokal Hongkong. "Permainan di sana (Ocean Park) lebih asyik," katanya.
Selain tiket yang lebih mahal, area Disneyland juga lebih kecil. Total hanya 126 hektare. Itu pun termasuk dua hotel. Bahkan, lahan yang digunakan untuk arena bermain hanya sekitar 0,4 kilometer persegi. Bandingkan dengan Ocean Park yang luasnya mencapai sekitar 0,8 km persegi. Lahan itu digunakan untuk akuarium raksasa, plus beberapa permainan seperti roller coaster dan turbodrop.
Karena itu, taman hiburan tersebut dinyatakan sebagai anggota jaringan Disneyland terkecil di dunia. Di luar Amerika, Disneyland terdapat di Paris (Prancis) dan Tokyo (Jepang).
Soal target yang tidak terpenuhi, Jubir Disneyland Hongkong Glendy Chu menolak berkomentar. Alasannya, tidak etis bagi dia mengumunkan angka komersial apa pun. Yang pasti, sejak dibuka dua tahun lalu, Disneyland Hongkong menjadi salah satu taman hiburan yang paling banyak dikunjungi di dunia. "Disneyland juga menjadi daya tarik utama Hongkong," jawabnya lewat email.
Disneyland Hongkong yang dibangun dengan dana USD 3,5 miliar itu membutuhkan suntikan dana lagi. Sebab, batas waktu pinjaman untuk proyek itu habis pada 30 September tahun depan. Pengelola sedang merundingkan rencana tersebut dengan Pemerintah Hongkong.
Namun, parlemen dan media setempat menekan pemerintah agar tidak terlalu banyak berinvestasi pada proyek yang gagal memenuhi target itu. Bahkan, media mendesak pemerintah mengembalikan Pulau Lantau ke fungsi awal, yakni tempat wisata mendaki.
Tekanan atas eksistensi Disneyland Hongkong semakin besar karena Pemerintah Tiongkok berencana membangun Disneyland di daratannya sendiri. Rencana itu digagas sejak 2005 meski realisasinya baru dimulai tahun ini. Kabarnya, Disneyland baru yang beroperasi pada 2010 bakal dibangun di distrik Pudong, Shanghai. Ukurannya juga lebih luas: 6 kilometer persegi. (el)
Tuesday, December 18, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment